Kapan ke Badau lagi ?
April 4, 2009 by elnur
luasnya tanah indonesia, kayanya alam indonesia serta beragam suku dan macam2 bahasa daerah. mungkin ga sih sepanjang hidup di dunia bisa kita jejakkan setiap tanah di indonesia dan mengalami langsung keragaman itu ? bisa iya bisa gak. Setidaknya salah satu daerah ujung utara bagian tengah indonesia sudah pernah dijajaki. Ever heard about Badau ? Lubok Antu ? daerah yang pertama adalah kecamatan di kalimantan barat yang letaknya di bagian utara dan berbatasan langsung dengan negara bagian serawak, kotanya lubok antu. Kalau lihat di Peta kira2 bagian tengah dari kalbar dan bagian atas. Badau juga jadi salah satu pintu keluar masuknya WNI maupun WNM (Warga Negara Malaysia) secara ga resmi, karena umumnya urusannya cuma di seputar-seputar 2 kota itu aja. Kalau TKI ilegal, ya mungkin aja ada tapi ga banyak, apalagi sejak Pemerintah Malaysia gencar sekali melakukan razia terhadap TKI ilegal. Kenapa ga resmi, karena diantara keduanya belum ada Pos Lintas Batas sebagai pintu resminya antara kedua negara. Yang pasti paling populer adalah entikong. Karena di situlah letak Pos Lintas Batas antara Indonesia dan Malaysia. Sekitar tanggal 16 - 20 Maret 2009 berkesempatan menjejakkan kaki ke Badau karena ada tugas kantor. Yang seru sebenarnya adalah perjalanannya. Dari Pontianak totalnya adalah 17 jam + 1 hari bermalam + 7 jam ke Badau. Sebaliknya ya kurang lebih sama seperti itu..
17 jam itu dari pontianak ke Putussibau.. infrastrukturnya lumayan sih, walaupun masih ada beberapa ruas jalan yang rusak walaupun sudah beraspal. Yah jadi semacam langganan tahunan aja, bulan ini dipelihara 4-6 bulan lagi lubang2 lagi
salah bentuk indikasi tidak digunakannya uang rakyat dengan baik dan benar .. ha ha ha. Tapi yang lebih parah lagi sebenarnya bukan itu. yang 7 jam itu loh . Kalau jalan sudha bagus, mungkin hanya 4 - 4.5 jam saja dari putusibau ke badau. Tapi sangat disanyangkan, infrastrukturnya masih tanah merah dan putih karena memang sebagian yang berlumpur tanahnya tanah liat yang warnanya putih campur abu dan hitam itu. sejak 2 bulan terakhir ini kendaraan umum dari putusibau ke badau sudah ga jalan lagi, karena memang ga mungkin jalannya dilewati kecuali pakai tarik and dorong
jadi yang aspal atau beton dari sekitar 200 km kira2 hanya 20 km. selebihnya masih tanah merah dan di beberapa tempat tanahny aambles, dan kalau paska hujan, banyak genangan dan licin. Yang bisa lewat cuma kendaraan off road seperti stradany toyota. Dan kemarin waktu ke sana kami naik strada per orangnya 200000. Pengemudinya harus yang sudah tau medan, karena ketika tiba di jalan yang ambles, kami para penumpang turun dan mobil strada yang double gardan itu pindah ke 2W nya dan dengan penuh perjuangan dan sempat juga ga bisa lewat harus dibantu dedaunan dan kayu2 hutan sebagai alasnya ban akhirnya beberapa daerah yang ambles bisa juga dilewati. Kalau kata pengalaman2 orang2 sih, ketika lewat jalan ambles dan kendaraan kita ikutan ambles dan ga ada kendaraan lain yang lewat untuk bantu narik, selamat deh bisa menikmati hotel di hutan belantara kalimantan. Alhamdulillah kemarin ga sampai begitu, walaupun rame2 tetap aja kan serem kudu nginep di hutan. Sampai di badau mobil2 malaysia seperti honda ceria , strada banyak berseliweran. Honda ceria di sana bisa didapat hanya dengan uang 5 juta, murah banget dibanding harga resminya. rata2 plat nomornya QKY dan semacamnya. Di Badau mayoritas penduduknya suku Dayak dan Jawa. jumlah penduduknya juga mungkin ga mencapai 1000 orang. Rata2 penduduk di sana seneng sekali membeli barang2 kebutuhan dari malaysia. Wajar aja , harga Gas LPG yang 14 kg cuma 100000, sedangkan kalau LPG dari Indonesia bisa mencapai 130000. Belum lagi gula yang infonya jauh lebih bersih dan lebih murah dari produknya Indonesia. Jauh sebelum istilah ilegal logging, kebanyakan penduduk dapat penghasilan dari komisi untuk mengawal truk2 pembawa log ke malaysia. Sehari aja biasanya untuk yang mendominasi lahan2 itu, bisa dapat sampai jutaan rupiah. Tapi sejak mulai rame2 ilegal logging diramein di Indonesia, praktis aktivitasnya nol sama sekali. Pendapatannya ya dari kebun, jual beli, termasuk jadi buruh kebun sawit. Tapi memang , diakui atau ga, harga2 di sana untuk barang2 lokal Indonesia mahal. Pop Mie yang biasa dibeli cuma 3000 bisa jaid 5000. kalau untuk barang Malaysia justru kebalikannya, dibandingkan dengan harga Indonesia jauh lebih murah. Listrik di sana hanya 12 jam nyalanya. Perjalanan kemarin sekaligus untuk melakukan pemeriksaan instalasi pembeliam listrik dari malaysia supaya listrik bisa 24 jam di sana. sehari semalam di sana cukup mengesankan. Tapi sayangnya ga sempet nyebrang ke Malaysia, sempet sih di sempadan aja.
Oia sebenarnya kalau mau ke Badau ada beberapa jalan alternatif. Kalau mau lewat entikong lalu ke kuching dan ke badau bisa jauh lebih pendek perjalanan ( 8 jam). kog bisa? ya iyalah, infrastruktur malaysia jauh lebih baik dari Indonesia. 8 jam karena jalannya udah aspal, lebar dan mulus. Uang rakyatnya betul2 dikembalikan ke rakyat sebagai pelayanan publik. Ga kayak di Indonesia :D. Tapi insya Allah harapan itu masih ada
kalau wakil rakyat dan eksekutifnya adalah orang2 yang bersih, peduli dan profesional. Kapan lagi ya ke Badau ? satu saat ketika jalanan sudah bagus. pasti bisa balik ke sana…
wow… bener bener pengalaman yang berharga untuk disharing mbak…
kayaknya mending emang liwat malaysia dulu yah baru balik lagi lintas batas…
hihihi….
setuju bahwa pembangunan belum merata….
yah… itu problem bangsa kita…
selain kehilangan identitas tentunya :p
kekekeke
semoga sukses selalu yah mbak…
wassalam
regards, tyarso
…
kalau wakil rakyat dan eksekutifnya adalah orang2 yang bersih, peduli dan profesional.
…
Pesan sponsor? @_@